Sabtu, 08 Oktober 2016

MAKALAH PENELITIAN TEORI BELAJAR BAHASA

 TEORI BELAJAR BAHASA
“TEORI HUMANISME DALAM PEMBELAJARAN BAHASA”
Dosen Pengampu: Dr. Hj. Luluk Sri Agus Prasetyoningsih, M.Pd.




Disusun Oleh: Kelompok 12
Kelas: 3A
1.     Rosmiati  (21501071007)
2.     Novita Mayang Sari  (21501071015)
3.     Laras Sufia Rachmatul Jannah  (21501071022)




PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
OKTOBER 2016


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.   Latar Belakang
                        Menurut teori humanisme, tujuannya untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika siswa telah memahami lingkungannya dan diri sendiri. Dengan kata lain, siswa telah mampu mencapai aktualisasi diri secara optimal. Teori humanisme cenderung bersifat eklektik, maksudnya teori ini dapat memanfaatkan teori apa saja asal tujuannya tercapai.
                         Beberapa tokoh penganut teori humanisme, diantaranya adalah
a.       Kolb, dengan “Belajar Empat Tahap”, yaitu pengalaman konkret, pengalaman aktif dan reflektif, konseptualisasi, dan eksperimentasi aktif.
b.      Honey dan Mumford, menggolongkan siswa menjadi 4 yaitu aktifis, reflektor, teoris dan pragmatis.
c.       Hubermas, membedakan 3 macam belajar yaitu belajar teknis, belajar praktis dan belajar emansipatoris.
d.      Bloom dan Krathwohl, dengan 3 kawasan tujuan belajar yaitu kognitif, psikomotor dan afektif.
e.       Ausubel, walaupun termasuk juga dalam aliran kognitifisme, ia terkenal dengan kosep belajar bermakna(Meaning Learning).
                       Aplikasi teori humanisme dalam pembelajaran cenderung mendorong siswa untuk berpikir induktif. Teori tersebut mementingkan faktor pengalaman dan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.

             1.2  Masalah Penelitian
1.      Bagaimana pengertian dan karakteristik teori humanistik dalam pembelajaran bahasa?
2.      Bagaimana pandangan teori humanisme dalam pembelajaran bahasa?

           1.3  Tujuan Penelitian
1.      Mengkaji hakikat belajar menurut teori humanistik dan penerapan dalam kegiatan pembelajaran.
2.      Menjelaskan pengertian belajar menurut teori humanistik.
3.      Menjelaskan pandangan Kolb, Honey dan Mumford, Hubermas, serta Bloom dan Krathwohl terhadap belajar.
4.      Aplikasi teori humanistik dalam pembelajaran.






BAB II
KAJIAN TEORI
2.1   Pengertian dan karakteristik
                          Menurut teori humanisme, proses belajar harus dimulai dan ditunjukan untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Teori humanisme sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses belajar itu sendiri. Teori belajar lebih banyak berbicara tentang konsep pendidikan untuk untuk membentuk manusiayang dicita-citakan serta tentang proses belajar dalam bentuk yang paling ideal. Teori ini lebih tertarik pada pengertian belajar dalam bentuknya yang paling dieal daripada pemahaman tentang proses belajar sebagaimana apa adanya. Pemahaman terhadap belajar yang diidealkan menjadi teori humanisme dapat memanfaatkan teori belajar apapun asal tujuannya untuk memanusiakan manusia.
                         Hal ini menjadikan teori humanisme bersifat sangat eklektik, bahwa setiap pendirian atau pendekatan belajar tertentu, akan ada kebaikan dan ada juga kelemahan. Dalam arti ini eklektisisme bukanlah suatu sistem dengan membiarkan unsur tersebut dalam keadaan sebagaimana aslinya. Teori humanisme akan memanfaatkan teori-teori apapun, asal tjuannya tercapai yaitu memanusiakan manusia. Oleh sebab itu, teori humanisme sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi daripada bidang kajian psikologi belajar.
2.2  Pandangan Teori Humanisme
                          Banyak tokoh penganut teori humanisme dengan pandangan masing-masing terhadap belajar :
a.       Pandangan Kolb terhadap Belajar
                    Kolb, ahli penganut teori humanisme membagi 4 tahapan belajar yaitu :
1.      Tahap pengalaman konkret
2.      Tahap pengalaman aktif dan reflektif
3.      Tahap konseptualisasi
4.      Tahap eksperimentasi aktif
                          Tahap-tahap belajar oleh Kolb sebagai suatu siklus yang berlangsung di luar kesadaran orang yang belajar. Secara teoritis, tahap-tahap belajar memang dapat dipisahkan, namun kenyataannya proses peralihan dari satu tahap ke tahap belajar sering kali terjadi begitu saja sulit untuk ditentukan kapan terjadinya.
b.      Pandangan Honey dan Mumford terhadap belajar
                   Pandangannya tentang belajar diilhami oleh pandangan Kolb mengenai tahapan belajar diatas. Honey dan Mumford menggolongkan orang yang belajar ke dalam 4 macam yaitu :
1.      Kelompok aktivis
2.      Kelompok reflektor
3.      Kelompok teoris
4.      Kelompok pragmatis
c.       Pandangan Habermas terhadap belajar
                   Menurutnya, belajar baru akan terjadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya. Lingkungan belajar yang dimaksud adalah lingkungan alam maupun sosial, sebab antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, Habermas membagi tipe belajar menjadi tiga, yaitu :
1.      Belajar teknis(technical learning),
2.      Belajar praktis(practical learning), dan
3.      Belajar emansipatoris(emancipatory learning).
d.      Pandangan Bloom dan Krathwohl terhadap belajar
                   Bloom dan Krathwohl lebih menekankan perhatian pada apa mesti dikuasai oleh individu (sebagai tujuan belajar). Tujuan belajar yang dikemukakannya dirangkum ke dalam 3 kawasan dikenal sebagai Taksonomi Bloom. Melalui taksonomi Bloom telah berhasil memberikan inspirasi kepada banyak pakar pendidikan dalam mengembangkan teori maupun praktik pembelajaran. Ada tiga kawasan dalam taksonomi Bloom sebagai berikut:
1.      Domain kogintif terdiri atas 6 tingkatan, yaitu pengetahuan (mengingat & menghafal);pemahaman (menginterpretasikan);aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan masalah);analisis (menjabarkan suatu konsep);sintesis (menggabungkan bagian konsep menjadi suatu konsep); dan evaluasi (membandingkan nilai, ide, metode, dsb).
2.      Domain psikomotor terdiri atas 5 tingkatan yaitu peniruan (menirukan gerak); penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak); ketepatan (melakukan gerak dengan benar); perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar); dan naturalisasi (melakukan gerak secara wajar).
3.      Domain afektif terdiri atas 5 tingkatan yaitu pengenalan (ingin menerima); merespon (aktif berpartisipasi); penghargaan (menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai); pengorganisasian (menghubungkan nilai-nilai yang dipercayainya); dan pengalaman (menjadikan nilai sebagai bagian dari pola hidupnya).









BAB III
HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian proses pembelajaran pada anak dengan penerapan teori menghafal :
1.      Muhamad Ulul  Albab (Labib) 12 tahun. Dalam penerapan materi teori pembelajaran menghafal yang di sampaikan oleh gurunya, kemampuan yang dimilikinya termasuk kategori sangat lambat. Sedangkan waktu yang diberikan oleh gurunya sama- sama dalam jangka waktu 1 minggu. Tetapi cara belajar yang di lakukan oleh Labib, ia menggunakan konsep menghafal 1 hari sebelum mata pelajaran di laksanakan. Alasan yang labib katakan ketika guru menanyakan tentang hafalanya adalah ia banyak kesibukan di rumah dan kurang fokus ketika harus menghafal. Labib juga memiliki sedikit potensi untuk mengembangkan dirinya sehingga ia tidak terlalu memiliki motivasi untuk memunuhi mata palajaran dengan teknik menghafal.

2.      Arina Akmalina Khairani (Arina)  12 tahun. Dalam penerapan materi teori pembelajaran menghafal yang di sampaikan oleh gurunya, kemampuan yang dimilikinya termasuk kategori sedang. Sama seperti Labib, Arina juga mendapatkan kesempatan satu minggu oleh gurunya untuk menghafal materi yang di sampaikan. Cara belajar yang di lakukan oleh Arina adalah menggunakan konsep menghafal satu minggu sebelum mata pelajaran di laksanakan. Tetapi ia memiliki alasan tersendiri ketika gurunya menanyakan tentang alasanya ketika tidak lancar dalam menghafal  , apabila dilihat dari potensi yang dimilikinya ia tidak terlalu pandai memanfaatkan dengan terus mengasah apa yang di milikinya. Sehingga terus berada pada posisi yang sama setiap kali mata pelajaran dengan teknik menghafal.

3.      Fera Yulia Rahma Putri (Fera) 14 tahun. Dalam penerapan materi teori pembelajaran  menghafal yang di sampaikan oleh gurunya, kemampuan yang dimilikinya termasuk kategori sangat Cepat. Karena penerapan teori yang Fera lakukan menggunakan konsep memahami bukan menghafal, sehingga Fera bisa dengan mudah memenuhi mata pelajaran menghafal sama seperti yang di berikan kepada teman- temannya yang lain. Sehingga ketika guru memberikan tugas menghafal, maka tidak ada kendala yang mempersulit proses penarapan yang fera rasakan. Daya ingatnya pun cukup kuat karena ia mampu menguasai materi dalam beberapa hari saja itu pun dilakukannya pada malam hari. Ketika ditanya tentang kemampuan yang dia miliki dan teknik apa yang dia gunakan, jawabannya menarik Fera menghafal tanpa menganggap itu sebagai beban yang harus di pikirkan, tetapi di laksanakan dengan santai. ( Pandangan Kolb terhadap belajar)

4.      Aldiansyah Putra Ramadhan (Aldiansyah) 11 tahun. Dalam teori pembelajaran pemahaman materi kemampuan yang di milikinya termasuk kategori sedang. Aldi , anak yang masih kurang memahami materi pembelajaran Matematika yang di jelaskan oleh gurunya. Saat ia mengikuti les/ bimbingan belajar(privat) di rumah yang di tawarkan oleh sang guru Bahasa Indonesia dan ia pun paham apa yang di ajarkan. Kemudian, saat diberikan tugas pun dia langsung memahami materi Bahasa Indonesia, mengapa ia tidak mampu memahami materi matematika? Karena dalam hal berhitung, dia masih belum bisa menghafalkan apa yang telah di pelajari. Kendala terbesar yang menghambat proses pengembangan potensi diri Aldi adalah tidak bisa mengkondisikan cara berpikir untuk fokus pada apa yang di sampaikan oleh sang guru karena ia juga tidak bisa ketika berhadapan dengan angka.







BAB IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
           Penelitian Teori Humanisme menerapkan metode menghafal materi dalam pembelajaran bahasa yang berkembang dengan berbagai istilah berbeda-eda, yaitu CLL, Sugestopedia, dan Total Physical Respons yang merupakan konsep psikoterapi. Hasil penelitian (1), (2) dan (4)  menggunakan metode mengahafal ialah sedang , karena si Labib, Arina dan Aldi memiliki rasa ketakutan ketika mereka harus menghafal materi yang telah dijelaskan oleh guru tersebut . Tetapi, Labib tidak bisa memotivasi diri sendiri , Arina tidak dapat mengembangkan kemampuannya untuk diasah dan dia masih tetap di posisi yang sama, sedangkan Aldi memilki kendala dalam metode menghafal yaitu tidak bisa fokus apa yang dijelaskan oleh guru ketika ia berhadapan dengan materi yang berupa angka.  
           Sedangkan Fera mampu mengembangkan potensi dirinya yang mampu memahami materi secara cepat, karena jangan terlalu banyak beban dalam hal menghafal dan menguasai semua materi harus dibawa santai(enjoy) dan relaksasi agar kemampuan otak dapat berkerja dengan cepat.


          











DAFTAR RUJUKAN
Pranowo.2014.Teori Belajar Bahasa Untuk Guru dan Mahasiswa Jurusan Bahasa.Yogyakarta:Pustaka Pelajar, hlm. 38-42.