TEORI BELAJAR BAHASA
“TEORI
HUMANISME DALAM PEMBELAJARAN
BAHASA”
Dosen
Pengampu: Dr. Hj. Luluk Sri Agus Prasetyoningsih, M.Pd.
Disusun Oleh:
Kelompok 12
Kelas: 3A
1.
Rosmiati (21501071007)
2.
Novita
Mayang Sari (21501071015)
3.
Laras
Sufia Rachmatul Jannah (21501071022)
PRODI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
OKTOBER 2016
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Menurut
teori humanisme, tujuannya untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap
berhasil jika siswa telah memahami lingkungannya dan diri sendiri. Dengan kata
lain, siswa telah mampu mencapai aktualisasi diri secara optimal. Teori
humanisme cenderung bersifat eklektik, maksudnya teori ini dapat memanfaatkan teori
apa saja asal tujuannya tercapai.
Beberapa
tokoh penganut teori humanisme, diantaranya adalah
a.
Kolb, dengan “Belajar Empat Tahap”,
yaitu pengalaman konkret, pengalaman aktif dan reflektif, konseptualisasi, dan
eksperimentasi aktif.
b.
Honey dan Mumford, menggolongkan siswa
menjadi 4 yaitu aktifis, reflektor, teoris dan pragmatis.
c.
Hubermas, membedakan 3 macam belajar
yaitu belajar teknis, belajar praktis dan belajar emansipatoris.
d.
Bloom dan Krathwohl, dengan 3 kawasan
tujuan belajar yaitu kognitif, psikomotor dan afektif.
e.
Ausubel, walaupun termasuk juga dalam
aliran kognitifisme, ia terkenal dengan kosep belajar bermakna(Meaning Learning).
Aplikasi
teori humanisme dalam pembelajaran cenderung mendorong siswa untuk berpikir
induktif. Teori tersebut mementingkan faktor pengalaman dan keterlibatan siswa
secara aktif dalam belajar.
1.2
Masalah Penelitian
1. Bagaimana
pengertian dan karakteristik teori humanistik dalam pembelajaran bahasa?
2. Bagaimana
pandangan teori humanisme dalam pembelajaran bahasa?
1.3 Tujuan
Penelitian
1. Mengkaji
hakikat belajar menurut teori humanistik dan penerapan dalam kegiatan
pembelajaran.
2. Menjelaskan
pengertian belajar menurut teori humanistik.
3. Menjelaskan
pandangan Kolb, Honey dan Mumford, Hubermas, serta Bloom dan Krathwohl terhadap
belajar.
4. Aplikasi
teori humanistik dalam pembelajaran.
BAB
II
KAJIAN
TEORI
2.1 Pengertian dan karakteristik
Menurut
teori humanisme, proses belajar harus dimulai dan ditunjukan untuk kepentingan
memanusiakan manusia itu sendiri. Teori humanisme sangat mementingkan isi yang
dipelajari daripada proses belajar itu sendiri. Teori belajar lebih banyak
berbicara tentang konsep pendidikan untuk untuk membentuk manusiayang
dicita-citakan serta tentang proses belajar dalam bentuk yang paling ideal.
Teori ini lebih tertarik pada pengertian belajar dalam bentuknya yang paling
dieal daripada pemahaman tentang proses belajar sebagaimana apa adanya. Pemahaman
terhadap belajar yang diidealkan menjadi teori humanisme dapat memanfaatkan
teori belajar apapun asal tujuannya untuk memanusiakan manusia.
Hal ini menjadikan
teori humanisme bersifat sangat eklektik, bahwa setiap pendirian atau
pendekatan belajar tertentu, akan ada kebaikan dan ada juga kelemahan. Dalam
arti ini eklektisisme bukanlah suatu sistem dengan membiarkan unsur tersebut
dalam keadaan sebagaimana aslinya. Teori humanisme akan memanfaatkan
teori-teori apapun, asal tjuannya tercapai yaitu memanusiakan manusia. Oleh
sebab itu, teori humanisme sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang
kajian filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi daripada bidang kajian
psikologi belajar.
2.2 Pandangan
Teori Humanisme
Banyak tokoh penganut
teori humanisme dengan pandangan masing-masing terhadap belajar :
a.
Pandangan Kolb terhadap Belajar
Kolb, ahli penganut teori
humanisme membagi 4 tahapan belajar yaitu :
1.
Tahap pengalaman konkret
2.
Tahap pengalaman aktif dan reflektif
3.
Tahap konseptualisasi
4.
Tahap eksperimentasi aktif
Tahap-tahap belajar oleh Kolb sebagai
suatu siklus yang berlangsung di luar kesadaran orang yang belajar. Secara
teoritis, tahap-tahap belajar memang dapat dipisahkan, namun kenyataannya
proses peralihan dari satu tahap ke tahap belajar sering kali terjadi begitu
saja sulit untuk ditentukan kapan terjadinya.
b.
Pandangan Honey dan Mumford terhadap
belajar
Pandangannya tentang belajar
diilhami oleh pandangan Kolb mengenai tahapan belajar diatas. Honey dan Mumford
menggolongkan orang yang belajar ke dalam 4 macam yaitu :
1.
Kelompok aktivis
2.
Kelompok reflektor
3.
Kelompok teoris
4.
Kelompok pragmatis
c.
Pandangan Habermas terhadap belajar
Menurutnya, belajar baru
akan terjadi jika ada interaksi antara individu dengan lingkungannya.
Lingkungan belajar yang dimaksud adalah lingkungan alam maupun sosial, sebab
antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, Habermas membagi tipe
belajar menjadi tiga, yaitu :
1.
Belajar teknis(technical learning),
2.
Belajar praktis(practical learning), dan
3.
Belajar emansipatoris(emancipatory learning).
d.
Pandangan Bloom dan Krathwohl terhadap
belajar
Bloom dan Krathwohl lebih
menekankan perhatian pada apa mesti dikuasai oleh individu (sebagai tujuan
belajar). Tujuan belajar yang dikemukakannya dirangkum ke dalam 3 kawasan
dikenal sebagai Taksonomi Bloom. Melalui taksonomi Bloom telah berhasil
memberikan inspirasi kepada banyak pakar pendidikan dalam mengembangkan teori
maupun praktik pembelajaran. Ada tiga kawasan dalam taksonomi Bloom sebagai
berikut:
1.
Domain kogintif terdiri atas 6 tingkatan,
yaitu pengetahuan (mengingat & menghafal);pemahaman
(menginterpretasikan);aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan
masalah);analisis (menjabarkan suatu konsep);sintesis (menggabungkan bagian
konsep menjadi suatu konsep); dan evaluasi (membandingkan nilai, ide, metode,
dsb).
2.
Domain psikomotor terdiri atas 5
tingkatan yaitu peniruan (menirukan gerak); penggunaan (menggunakan konsep
untuk melakukan gerak); ketepatan (melakukan gerak dengan benar); perangkaian
(melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar); dan naturalisasi
(melakukan gerak secara wajar).
3.
Domain afektif terdiri atas 5 tingkatan
yaitu pengenalan (ingin menerima); merespon (aktif berpartisipasi); penghargaan
(menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai); pengorganisasian (menghubungkan
nilai-nilai yang dipercayainya); dan pengalaman (menjadikan nilai sebagai
bagian dari pola hidupnya).
BAB III
HASIL PENELITIAN
Hasil
penelitian proses pembelajaran pada anak dengan penerapan teori menghafal :
1.
Muhamad Ulul Albab (Labib) 12 tahun. Dalam penerapan
materi teori pembelajaran menghafal yang di sampaikan oleh gurunya, kemampuan
yang dimilikinya termasuk kategori sangat lambat. Sedangkan waktu yang diberikan
oleh gurunya sama- sama dalam jangka waktu 1 minggu. Tetapi cara belajar yang
di lakukan oleh Labib, ia menggunakan konsep menghafal 1 hari sebelum mata
pelajaran di laksanakan. Alasan yang labib katakan ketika guru menanyakan
tentang hafalanya adalah ia banyak kesibukan di rumah dan kurang fokus ketika
harus menghafal. Labib juga memiliki sedikit potensi untuk mengembangkan
dirinya sehingga ia tidak terlalu memiliki motivasi untuk memunuhi mata
palajaran dengan teknik menghafal.
2.
Arina Akmalina Khairani (Arina) 12 tahun. Dalam penerapan materi teori
pembelajaran menghafal yang di sampaikan oleh gurunya, kemampuan yang
dimilikinya termasuk kategori sedang. Sama seperti Labib, Arina juga
mendapatkan kesempatan satu minggu oleh gurunya untuk menghafal materi yang di
sampaikan. Cara belajar yang di lakukan oleh Arina adalah menggunakan konsep
menghafal satu minggu sebelum mata pelajaran di laksanakan. Tetapi ia memiliki
alasan tersendiri ketika gurunya menanyakan tentang alasanya ketika tidak lancar
dalam menghafal , apabila dilihat dari
potensi yang dimilikinya ia tidak terlalu pandai memanfaatkan dengan terus
mengasah apa yang di milikinya. Sehingga terus berada pada posisi yang sama
setiap kali mata pelajaran dengan teknik menghafal.
3.
Fera Yulia Rahma Putri (Fera) 14 tahun.
Dalam penerapan materi teori pembelajaran
menghafal yang di sampaikan oleh gurunya, kemampuan yang dimilikinya
termasuk kategori sangat Cepat. Karena penerapan teori yang Fera lakukan
menggunakan konsep memahami bukan menghafal, sehingga Fera bisa dengan mudah
memenuhi mata pelajaran menghafal sama seperti yang di berikan kepada teman-
temannya yang lain. Sehingga ketika guru memberikan tugas menghafal, maka tidak
ada kendala yang mempersulit proses penarapan yang fera rasakan. Daya ingatnya
pun cukup kuat karena ia mampu menguasai materi dalam beberapa hari saja itu
pun dilakukannya pada malam hari. Ketika ditanya tentang kemampuan yang dia
miliki dan teknik apa yang dia gunakan, jawabannya menarik Fera menghafal tanpa
menganggap itu sebagai beban yang harus di pikirkan, tetapi di laksanakan
dengan santai. ( Pandangan Kolb terhadap belajar)
4.
Aldiansyah Putra Ramadhan (Aldiansyah)
11 tahun. Dalam teori pembelajaran pemahaman materi kemampuan yang di milikinya
termasuk kategori sedang. Aldi , anak yang masih kurang memahami materi
pembelajaran Matematika yang di jelaskan oleh gurunya. Saat ia mengikuti les/
bimbingan belajar(privat) di rumah yang di tawarkan oleh sang guru Bahasa Indonesia
dan ia pun paham apa yang di ajarkan. Kemudian, saat diberikan tugas pun dia
langsung memahami materi Bahasa Indonesia, mengapa ia tidak mampu memahami
materi matematika? Karena dalam hal berhitung, dia masih belum bisa
menghafalkan apa yang telah di pelajari. Kendala terbesar yang menghambat proses
pengembangan potensi diri Aldi adalah tidak bisa mengkondisikan cara berpikir
untuk fokus pada apa yang di sampaikan oleh sang guru karena ia juga tidak bisa
ketika berhadapan dengan angka.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penelitian Teori
Humanisme menerapkan metode menghafal materi dalam pembelajaran bahasa yang
berkembang dengan berbagai istilah berbeda-eda, yaitu CLL, Sugestopedia, dan
Total Physical Respons yang merupakan konsep psikoterapi. Hasil penelitian (1),
(2) dan (4) menggunakan metode
mengahafal ialah sedang , karena si Labib, Arina dan Aldi memiliki rasa
ketakutan ketika mereka harus menghafal materi yang telah dijelaskan oleh guru tersebut
. Tetapi, Labib tidak bisa memotivasi diri sendiri , Arina tidak dapat
mengembangkan kemampuannya untuk diasah dan dia masih tetap di posisi yang
sama, sedangkan Aldi memilki kendala dalam metode menghafal yaitu tidak bisa
fokus apa yang dijelaskan oleh guru ketika ia berhadapan dengan materi yang
berupa angka.
Sedangkan Fera mampu mengembangkan
potensi dirinya yang mampu memahami materi secara cepat, karena jangan terlalu
banyak beban dalam hal menghafal dan menguasai semua materi harus dibawa santai(enjoy)
dan relaksasi agar kemampuan otak dapat berkerja dengan cepat.
DAFTAR
RUJUKAN
Pranowo.2014.Teori Belajar Bahasa Untuk Guru dan
Mahasiswa Jurusan Bahasa.Yogyakarta:Pustaka Pelajar, hlm. 38-42.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar